Sabtu, 04 November 2017

Berkibarlah di Langit yang Biru

            Dulu sewaktu masih SD kami selalu bernyanyi sebelum pelajaran dimulai. Bapak atau Ibu guru memandu kami. Biasanya dua atau tiga lagu kami nyanyikan. Kami menyanyi dengan suara lantang dan penuh semangat khas anak-anak. Selesai bernyanyi, kami berdoa bersama dipimpin seorang siswa. Setelah itu barulah pelajaran dimulai.

            Bernyanyi, mungkin itulah cara paling mujarab untuk mengusir kantuk yang sering masih menghinggapi kami di pagi hari. Bahkan bukan cuma di pagi hari, di sela-sela pelajaran siang pun kami sering diajak bernyanyi, terutama kalau kami mulai terlihat lesu atau jenuh. Tujuannya tidak lain supaya kami lebih bergairah belajar.

            Salah satu lagu yang sering kami nyanyikan adalah lagu wajib nasional ciptaan Ibu Sud, yaitu Bendera Merah Putih. Bendera yang untuk pertama kali dijahit oleh Ibu Negara. Wanita asli kelahiran Bengkulu, putri tunggal dari keluarga Hassan din dan Siti Chadijah. Dia adalah Fatmawati Soekarno, perajut negeri Pahlawan Bengkulu.

            Wanita yang lahir di 94 tahun lalu ini memiliki nama asli Fatimah. Walaupun ia berdarah bangsawan, ia sewaktu kecil tak pernah di manjakan. Ia seorang wanita yang mempunyai mimpi besar untuk negeri. Hingga akhirnya ia di anugerahi gelar Pahlawan Nasional karena pengabdiannya untuk Indonesia. Oleh karena itu, untuk menjadi sosok Fatmawati di era 2000-an kita harus mulai belajar menghitung semua yang kita lakukan. Ucapan kita sekarang adalah jaminan. Kita bisa terpuruk hanya dengan satu patah kata. Kita pun bisa menuai kemuliaan dengan kata-kata. Itu sebabnya terlalu bodoh andai kita melakukan hal yang sia-sia. Detik demi detik harus kita tanam sebaik mungkin, karena inilah bibit yang buahnya akan kita petik di masa depan.

            Bukan warga Indonesia namanya tapi warga Undonesia jika kita tak mengenal Fatma dan harus mengulang mundur kebelakang tentang sosok Pahlawan Bengkulu yang telah menjahit Bendera Merah Putih untuk dikibarkan pada 17 Agustus 1945 silam. Dan dalam perjuangannya ia tetap menjadi pribadi yang sejuk walaupun ditempat yang panas, tetap manis walaupun ditempat yang begitu pahit. Serta tetap tenang walaupun ditengah badai yang paling hebat sekalipun. Hingga akhirnya Sang Saka Merah Putih siap untuk di kibarkan. Yang pada dasarnya ini bukan untuk menunjukkan siapa yang paling penting, siapa yang paling berperan atau siapa yang paling hebat. Tapi sederhana saja, siapa yang paling bermanfaat bagi yang lain.

            Fatmawati, wanita kelahiran Bengkulu ini tetap merasa kecil meskipun ia telah menjadi besar karena telah berhasil menjahit Bendera Merah Putih. Dan ia tetap melakukan yang terbaik tanpa harus merasa yang paling baik. Karena berkarya untuk negeri sudah menjadi ambisi dari seorang ibu yang memiliki lima anak ini. Tanpa perlu untuk dipuji karena impiannya memang suci. Seirama dengan corak putih dibendera yang dijahitnya, dan semua semata-mata untuk berkontribusi pada negeri. Serta warna merah pada bendera merah putih yang dijahit oleh Fatmawati mempunyai makna berani. Itu bisa kita ambil kesimpulan agar bangsa Indonesia harus selalu berani untuk memperjuangkan Indonesia ke arah lebih baik lagi, bukan secara bolak balik namun kontinu. Karena sesungguhnya pisau tidak membunuh dan api tidak membakar, kecuali atas kelalaian dan kecerobohan sendiri. Dan jangan laksana pisau yang hanya tajam kebawah namun tumpul keatas. Semua harus sama rata, tanpa embel-embel jabatan atau harta, suku atau agama dan tidak perduli bagaimana rupanya. Serta tidak pula untuk menjadi api yang kecil-kecil jadi teman namun ketika besar ia menjadi lawan. Dulu ia dibesarkan, kemudian ketika besar ia berusaha menjatuhkan. Itu sama halnya menggigit tangan orang yang memberi makan.

            Terimalah salam kami wahai Ibu Fatmawati perajut negeri. Hidup tanpa tulang akan lemah, dan hidup tanpa darah akan mati. Merahnya darahmu dan putihnya tulangmu, itulah Bendera merah putih. Tetaplah gagah dan jernih, tunjukkan warnamu, dan berkibarlah dilangit yang biru. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar