Dulu sewaktu masih SD
kami selalu bernyanyi sebelum pelajaran dimulai. Bapak atau Ibu guru memandu
kami. Biasanya dua atau tiga lagu kami nyanyikan. Kami menyanyi dengan suara
lantang dan penuh semangat khas anak-anak. Selesai bernyanyi, kami berdoa
bersama dipimpin seorang siswa. Setelah itu barulah pelajaran dimulai.
Bernyanyi, mungkin itulah cara paling mujarab untuk
mengusir kantuk yang sering masih menghinggapi kami di pagi hari. Bahkan bukan cuma di pagi hari, di sela-sela pelajaran siang pun kami sering diajak
bernyanyi, terutama kalau kami mulai terlihat lesu atau jenuh. Tujuannya tidak
lain supaya kami lebih bergairah belajar.
Salah satu lagu yang sering kami nyanyikan adalah lagu
wajib nasional ciptaan Ibu Sud, yaitu Bendera Merah Putih. Bendera yang untuk
pertama kali dijahit oleh Ibu Negara. Wanita asli kelahiran Bengkulu, putri tunggal
dari keluarga Hassan din dan Siti Chadijah. Dia adalah Fatmawati Soekarno,
perajut negeri Pahlawan Bengkulu.
Wanita yang lahir di 94 tahun lalu ini memiliki nama asli
Fatimah. Walaupun ia berdarah bangsawan, ia sewaktu kecil tak pernah di
manjakan. Ia seorang wanita yang mempunyai mimpi besar untuk negeri. Hingga akhirnya
ia di anugerahi gelar Pahlawan Nasional karena pengabdiannya untuk Indonesia.
Oleh karena itu, untuk menjadi sosok Fatmawati di era 2000-an kita harus mulai belajar
menghitung semua yang kita lakukan. Ucapan kita sekarang adalah jaminan. Kita
bisa terpuruk hanya dengan satu patah kata. Kita pun bisa menuai kemuliaan
dengan kata-kata. Itu sebabnya terlalu bodoh andai kita melakukan hal yang
sia-sia. Detik demi detik harus kita tanam sebaik mungkin, karena inilah bibit
yang buahnya akan kita petik di masa depan.
Bukan warga Indonesia namanya tapi warga Undonesia jika
kita tak mengenal Fatma dan harus mengulang mundur kebelakang tentang sosok Pahlawan Bengkulu yang telah menjahit Bendera Merah Putih untuk dikibarkan pada
17 Agustus 1945 silam. Dan dalam perjuangannya ia tetap menjadi pribadi yang
sejuk walaupun ditempat yang panas, tetap manis walaupun ditempat yang begitu
pahit. Serta tetap tenang walaupun ditengah badai yang paling hebat sekalipun.
Hingga akhirnya Sang Saka Merah Putih siap untuk di kibarkan. Yang pada
dasarnya ini bukan untuk menunjukkan siapa yang paling penting, siapa yang
paling berperan atau siapa yang paling hebat. Tapi sederhana saja, siapa yang
paling bermanfaat bagi yang lain.
Fatmawati, wanita kelahiran Bengkulu ini tetap merasa
kecil meskipun ia telah menjadi besar karena telah berhasil menjahit Bendera
Merah Putih. Dan ia tetap melakukan yang terbaik tanpa harus merasa yang paling
baik. Karena berkarya untuk negeri sudah menjadi ambisi dari seorang ibu yang
memiliki lima anak ini. Tanpa perlu untuk dipuji karena impiannya memang suci.
Seirama dengan corak putih dibendera yang dijahitnya, dan semua semata-mata
untuk berkontribusi pada negeri. Serta warna merah pada bendera merah putih
yang dijahit oleh Fatmawati mempunyai makna berani. Itu bisa kita ambil
kesimpulan agar bangsa Indonesia harus selalu berani untuk memperjuangkan
Indonesia ke arah lebih baik lagi, bukan secara bolak balik namun kontinu.
Karena sesungguhnya pisau tidak membunuh dan api tidak membakar, kecuali atas
kelalaian dan kecerobohan sendiri. Dan jangan laksana pisau yang hanya tajam
kebawah namun tumpul keatas. Semua harus sama rata, tanpa embel-embel jabatan
atau harta, suku atau agama dan tidak perduli bagaimana rupanya. Serta tidak pula
untuk menjadi api yang kecil-kecil jadi teman namun ketika besar ia menjadi lawan.
Dulu ia dibesarkan, kemudian ketika besar ia berusaha menjatuhkan. Itu sama
halnya menggigit tangan orang yang memberi makan.
Terimalah salam kami wahai Ibu Fatmawati perajut negeri.
Hidup tanpa tulang akan lemah, dan hidup tanpa darah akan mati. Merahnya
darahmu dan putihnya tulangmu, itulah Bendera merah putih. Tetaplah gagah dan
jernih, tunjukkan warnamu, dan berkibarlah dilangit yang biru.